Pantai Pandawa

Pantai Pandawa adalah salah satu kawasan wisata di area Kuta selatan, Kabupaten Badung, Bali. Pantai ini terletak di balik perbukitan dan sering disebut sebagai Pantai Rahasia (Secret Beach). Di sekitar pantai ini terdapat dua tebing yang sangat besar yang pada salah satu sisinya dipahat lima patung Pandawa[1] dan Kunti. Keenam patung tersebut secarara berurutan (dari posisi tertinggi) diberi penejasan nama Dewi Kunti, Dharma Wangsa, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa.

Pantai Pandawa, salah satu pantai pasir putih terkenal di Bali yang wajib dikunjungi. Pantai Pandawa terletak di Desa Kutuh, Kabupaten Badung dan lebih terkenal dikalangan wisatawan mancanegara khususnya Australia dengan nama secret beach. Sedangkan masyarakat lokal lebih mengenal dengan nama pantai Kutuh.

Selain untuk tujuan wisata dan olahraga air, pantai ini juga dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut karena kontur pantai yang landai dan ombak yang tidak sampai ke garis pantai. Cukup banyak wisatawan yang melakukan paralayang dari Bukit Timbis hingga ke Pantai Pandawa. Kawasan pantai ini juga sering digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk sinetron FTV.

Dari airport Ngurah Rai, akan menempuh waktu perjalanan 1 jam dengan jarak 18 kilometer. Walaupun jarak hanya 18 kilometer, waktu yang diperlukan untuk mencapai lokasi adalah satu jam. Karena jalan menuju pantai di desa Kutuh, berliku-liku dan anda memasuki daerah kemacetan, terutama di depan tempat wisata GWK Jimbaran.

Rentang dari pantai ini adalah sekitar 1 kilometer, dengan dibatasi oleh tebing kapur membuat pantai ini sangat diminati oleh wisatawan domestik. Jalan menuju pantai sudah di aspal, tempat parkir juga tersedia luas.

Jika anda berkunjung ke pantai ini, bersama keluarga dan anak-anak. Tidak usah membawa bekal makanan dan minuman sendiri. Di pantai ini, banyak warung makan yang menjual nasi goreng, mie goreng, hidangan laut bakar dan beberapa jenis makanan barat.

Jika anda ingin berjemur di pantai ini, warung makanan disini menyediakan kursi berjemur berserta payung yang dapat anda sewa.

Hampir semua tempat wisata di Bali akan di kenakan biaya tiket masuk. Harga tiket masuk pantai Pandawa (domestik) sebagai berikut.

Domestik – Rp 8.000 / orang.
Parkir mobil, Rp 5.000 / 1 mobil.
Parkir motor, Rp 2.000 / 1 motor.

Pantai Natsepa

Keindahan pantai yang satu ini sudah teruji selama puluhan tahun. Pantai Natsepa adalah salah satu obyek wisata di Ambon yang cukup melegenda. Selama bertahun-tahun pantai ini seudah menjadi tempat untuk berwisata baik bagi penduduk lokal maupun para wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Bahkan, nama Natsepa sudah terkenal hingga penjuru Eropa terutama di telinga masyarakat Maluku yang menjadi warga Negara Belanda. Bagi mereka, Pantai Natsepa seperti sebuah simbol atas kerinduan mereka pada tanah leluhur mereka di Bumi Pertiwi.

Pantai Natsepa

Di sini anda bebas bermain air atau sekedar berkeliling di pesisir pantai. Di sini juga disediakan perahu untuk berkeliling dengan biaya sekitar Rp 20.000 untuk 1 jam. Di pantai Natsepa juga terdapat kedai untuk menikmati keindahannya bersama keluarga, tidak jauh dari pantai sekitar 700 m anda bisa menjumpai pasar yang menjual berbagai macam ikan segar yang langsung dibawa oleh para nelayan, jika anda beruntung datang pada saat cuaca cerah maka anda dapat membeli ikan dengan harga sangat murah karena harga ikan disana tergantung dengan cuaca.

Harga tiket masuk yang sangat murah yaitu Rp 1.000/orang dan Rp 2.500 untuk sekali parkir. Untuk menuju ke pantai Natsepa ini cukup mudah. Anda bisa menggunakan transportasi umum (Rp. 5000) dari Terminal Besar di Ambon menuju Suli (sekitar 30 menit). Akan lebih mudah dan lebih cepat jika anda menggunakan kendaraan pribadi (mobil atau sepeda motor) karena pantai Natsepa dekat dengan pusat Ambon, sekitar 18 km.

Pantai Natsepa

Pantai Natsepa yang legendaris ini memang menyimpan pesona yang luar biasa. Walaupun banyak bermunculan tempat wisata pantai yang baru di sepanjang pesisir Pulau Ambon, namun Pantai Natsepa selalu mendapat tempat khusus terutama bagi masyarakat Pulau Ambon. Kehidupan di Ambon seperti tidak dapat dipisahkan dari keberadaan pantai ini. Bahkan, banyak yang mengatakan jika seseorang belum bisa dikatakan datang ke Ambon bila belum menginjakkan kaki di Pantai Natsepa.

Selain keindahannya, pantai ini juga terkenal dengan satu jenis makanan yang juga melegenda. Makanan itu adalah Rujak buah khas Natsepa. Pada dasarnya, rujak ini sama seperti rujak umum yang dapat kita nikmati dimana saja, tetapi perbedaan istimewanya terletak pada sambal kacang yang melengkapi buah-buahan tersebut. Rujak buah Natsepa adalah makanan primadona yang selalu dicari oleh siapapun yang berkunjung ke Pantai Natsepa.

Wilayah berpasir di Pantai Natsepa adalah salah satu yang terluas di sepanjang pesisir Pulau Ambon. Hamparan pasirnya memang tidak sepanjang Pantai Liang, namun luas area Pantai Natsepa lebih banyak memberikan ruang bagi para wisatawan untuk melakukan berbagai aktifitas. Biasanya pada saat air laut surut, bagian berpasir dari Pantai Natsepa menjadi sangat luas hingga para wisatawan bisa bermain bola, bersantai, maupun bermain pasir pada satu tempat di waktu yang bersamaan.

PANTAI ORA

WISATA PANTAI ORA

Indonesia memang terkenal akan keindahan alamnya. Sebagai negara kepulauan, tentu saja nusantara kita ini dianugerahi banyak pantai yang indah. Pantai Ora adalah salah satu surga dunia Indonesia yang terletak di utara Pulau Seram, Maluku Tengah. Pantai ini juga merupakan salah satu bukti bahwa Maluku juga mempunyai pantai indah nan eksotis.

Kita tidak perlu jauh-jauh untuk bisa merasakan keindahan pantai kelas dunia seperti Maldives atau Bora Bora. Karena Pantai Ora juga bisa memberikan keindahan alam yang mempesona dan tidak kalah dari dua tempat tersebut.

Pantai Ora menawarkan fasilitas penginapan yang unik, yaitu penginapan yang berbentuk rumah panggung dan mengapung di atas laut. Di sini kita juga dimanjakan dengan pemandangan bawah laut. Biota laut yang mempesona terlihat jelas karena air yang begitu jernih. Kita dapat langsung melihat keindahan terumbu karang dan koral pantai yang beraneka ragam dan berwarna warni serta ikan-ikan yang berenang disekitarnya.

Hanya terdapat satu buah resort yang tersedia di Pantai Ora yang bernama Ora Beach Resort. Ora Beach Resort ini memiliki enam buah cottage yang terbuat dari kayu dan beratapkan jerami. Lokasi Ora Beach Resort ini juga terpencil dan jauh dari keramaian hiruk pikuk perkotaan, sangat cocok untuk yang suka dengan ketenangan.

Saat malam hari kita dapat mendengar deruan ombak dan juga menikmati indahnya langit yang dihiasi bintang-bintang. Dan saat pagi tiba tentu saja kita disambut dengan suasana Pantai Ora yang menakjubkan, air laut yang jernih dan udara pagi yang segar.

Biaya penginapan di Ora Beach Resort tidak dihitung berdasarkan biaya per kamar, namun dihitung dari biaya per orang. Hargapun berubah-ubah sesuai musim. Kisaran harganya adalah antara Rp 1.000.000 sampai dengan Rp 1.500.000 per hari. Harga tersebut sudah termasuk biaya makan tiga kali sehari dan juga biaya transportasi dari Pelabuhan Tulehu.

Transportasi

Untuk menuju Pantai Ora, dari Bandara Patimura Ambon, pertama-tama kita menuju ke Pelabuhan Tulehu. Kita bisa menggunakan angkutan umum atau taksi, waktu perjalanan sekitar satu jam dengan harga sesuai tarif atau negosiasi.

Setelah sampai di Pelabuhan Tulehu, kita lanjut menuju Pelabuhan Amahi, Maluku Tengah, menggunakan kapal cepat dengan tarif Rp150.000 untuk VIP dan Rp 92.000 untuk ekonomi. Waktu perjalanan yang dibutuhkan untuk sampai ke Pelabuhan Amahi adalah sekitar 2 jam.

Setelah itu dilanjutkan dengan perjalanan menuju Desa Sawai yang dapat ditempuh dengan angkutan umum dan membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di sana. Kemudian dari Desa Sawai menuju Pantai Ora, hanya diperlukan waktu 10 menit untuk menyeberang dengan kapal motor, dan tibalah kita di Pantai Ora.

Kita dapat menggunakan alternatif lain untuk menuju Pantai Ora, yaitu dengan cara menyewa mobil dari Bandara Patimura Ambon dan langsung menuju ke Desa Sawai dengan perjalanan melewati Kabupaten Seram dan Kabupaten Maluku Tengah. Tetapi sebaiknya kita melakukan negosiasi terlebih dahulu karena perjalanan menuju Desa Sawai cukup jauh dan membutuhkan waktu sekitar 1 hari 1 malam.

PANTAI SIUNG

WISATA PANTAI SIUNG

Salah satu pantai yang menyimpan potensi alam yang luar bias adalah Pantai Siung Gunung Kidul. Meskipun di kalangan para wisatawan pantai ini tidak se-terkenal pantai Baron, tetapi bagi para petualang panjat tebing, pantai ini merupakan tempat yang wajib dikunjungi.

Pantai siung ini terletak di Kecamatan Tepus berjarak 100 km dari kota Yogyakarta menawarkan tempat pemanjatan yang menantang dan pesona pemandangan laut yang menarik. Banyak para pemanjat dari dalam maupun luar negeri berkunjung ke tempat ini untuk mencoba menaklukkan tebing yang berada di pantai Siung ini.

Pantai ini cukup luas untuk melakukan berbagai macam aktivitas, mulai dari bermain pasir dan ombak, memancing dan bermain voli pantai. Kondisi pantai ini tidak terlalu ramai dan cenderung sepi sehingga sangat nyaman dan tenang untuk berlibur.

Salah satu pesona yang menonjol dari pantai ini adalah batu karanganya yang berukuran raksasa di sebelah timur dan barat memiliki peran yang penting, selain untuk memperindah dan pembatas dengan pantai lain, karang tersebut menjadi dasar penamaan pantai ini.

Batu karang tersebut terletak agak menjorok ke laut dan menurut seorang sesepuh di tempat ini yang bernama Wastoyo, penamaan pantai ini diambil dari bentuk batu tersebut yang menyerupai gigi kera atau Siung Wanara. Hingga sekarang batu tersebut masih dapat dinikmati keindahannya berpadu dengan gempuran ombak yang selalu menerpanya menyajikan pemandangan yang dramastis.

Karang berbentuk siung tersebut hingga kini masih tahan dengan gerusan ombak dan menjadi saksi kejayaan wilayah Siung pad masa lalu. Menurut cerita sesepuh tersebut, wilayah Siung pada masa para wali menjadi pusat perdagangan di wilayah Gunungkidul. Tidak jauh dari pantai ini tepatnya di wilayah Winangun berdiri sebuah pasar. Ditempat tersebut berdiam Nyai Kami dan Nyai Podi, istri abdi dalem Keraton Yogyakarta dan Surakarta.

Sebagian besar warga Siung pada wakatu itu berprofesi sebagai petani garam walaupun tempat tersebut banyak terdapat jenis ikan tapi warga tidak banyak yang berani melaut saat itu. Garam yang dihasilkan warga Siung ini menjadi barang dagangan utama di pasar Winangun tersebut.

Anda juga bisa naik ke deretan tebing karst yang megah berdiri di sebelah barat pantai ini. Tebing inilah yang biasa digunakan oleh para pemanjat ntuk melakukan olah raga dan uji keberanian panjat tebing dia alam. Diantara tebing tersebut tedapat tanah lapang yang bisa digunakan untuk tempat berkemah dan menyalakan api unggun. Dari ketinggian tebing tesebut anda dapat melihat pantai Siung secara utuh keseluruhan yang sangat menakjubkan.

Tidak jauh dari ground camp atau tempat berkemah tersebut berdiri rumah panggung kayu yang bisa dimanfaatkan untuk base camp atau bermalam sebuah pilihan selain mendirikan tenda di tempat ini. Ukuran base camp tersebut cukup untuk 15 orang. Anda dapat menyewa tempat tersebut dari warga setempat untuk bermalam di base camp sambil menikmati suasana malam di pantai Siung ini.

Saat malam tiba dan suasana mulai sepi, kalau beruntung anda akan dapat melihat sekelompok kera ekor panjang turun dari puncak tebing menuju pantai. Kera yang habitatnya makin langka ditempat ini masih dapat bisa kita jumpai pada malam hari.