CANDI GEDONG SANGO

WISATA CANDI GEDONG SANGO

Candi Gedong Songo merupakan tempat wisata yang terletak di Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Gedong Songo menjadi salah satu tempat wisata yang sangat ramai dikunjungi para wisatawan, baik wisatawan lokal maupun wisatawan manca negara. Sesuai dengan namanya, Gedong Songo yang berarti terdapat 9 bangunan candi yang tersebar di komplek kawasan wisata alam yang begitu luas dan mempesona.

Candi Gedong Songo terletak di lereng Gunung Ungaran bagian selatan dengan ketinggian sekitar 1.200 m dari permukaan laut sehingga suhu udara di kawasan wisata ini cukup dingin (berkisar antara 19-27 °C). Suasana sejuk hawa pegunungan serta terbebas dari polusi udara akan menjadikan pengelaman tersendiri bagi para pengunjung yang suka akan keindahan alam.

Disamping Candi Gedong Songo merupakan tempat wisata alam juga menjadi salah satu tempat wisata sejarah di kabupaten Semarang yang wajib dikunjungi ketika Anda sedang berlibur ataupun jalan-jalan di kawasan wisata bandungan.

Lokasi antara candi satu dengan candi yang lainnya tidak berdekatan sehingga dibutuhkan tenaga ekstra untuk menempuh jarak ratusan meter agar bisa melihat keseluruhan candi-candi yang ada. Namun jangan khawatir, meskipun nafas harus terengah-engah akan mudah terobati dengan udara segar bahkan keindahan alam yang terkadang bisa melihat secara dekat kabut dingin yang turun dari atas gunung.

Di komplek wisata Candi ini juga terdapat tempat untuk istirahat sambil menyiram bahkan mandi dengan air hangat. Tepatnya di antara candi gedung 3 dan candi gedung 4, terdapat sebuah kepunden gunung dengan sumber air panas yang mengadung kadar belerang cukup tinggi. Sekedar informasi, bahwa dengan menyiram atau mandi dengan air hangat yang mengandung belerang ini bisa mengobati penyakit gatal-gatal maupun penyakit kulit lainnya.

Candi gedong songo ditemukan pertama kali oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada tahun 1740 M. Dan pada saat itu Raffles menemukan sebanyak 7 buah bangunan candi sehingga dia menamainya dengan Candi Gedong Pitu, arti kata “pitu” dalam bahasa Indonesia adalah tujuh.

Penyebutan Candi Gedong Pitu bertahan lama hingga seribu tahunan lebih. Dan pada tahun 1908 – 1911 seorang arkeolog dari belanda Van Stein Callenfels kembali melakukan penelitian lagi di komplek candi Gedong Pitu. Dalam kurun waktu 3 tahunan Callenfels menemukan lagi 2 candi lainnya yang bertempat tidak jauh dari candi-candi yang sebelumnya telah ditemukan Raffles sehingga total kesemuaan candi yang ditemukan menjadi 9 buah. Dengan ditemukannya 2 candi yang lain ini maka nama Candi Gedong Pitu berubah menjadi Candi Gedong Songo.

Pemugaran Candi Gedong I dan Candi Gedong II dilakukan pada tahun 1928 – 1929. Sedangkan pemerintah Indonesia pada tahun 1972 – 1982 melakukan pemugaran total terhadap bangunan Candi Gedong Songo. Bahkan pemugaran area wisata tersebut dilakukan sampai saat ini sehingga semakin terlihat indah dan rapi namun tanpa merubah struktur bangunan-bangunan candi yang ada.
Menurut penelitian bahwa Candi Gedong Songo merupakan bangunan peninggalan budaya Hindu dari zaman Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 masehi).

Untuk menuju area wisata Candi Gedong Songo dibutuhkan perjalanan sekitar 40 menit dari pusat keramaian Kota Ambarawa dengan perjalanan yang didominasi dengan tanjakan serta kemiringan yang sangat tajam. Lokasi candi ini juga dapat ditempuh dalam waktu kurang lebih 10 menit dari obyek wisata New Bandungan Indah dengan kondisi jalan ketika tidak menemukan kemacetan.

Dan dibawah ini adalah daftar jarak tempuh untuk menuju Candi Gedong Songo.

  • Candi Gedong Songo – Kota Semarang : 45 KM
  • Candi Gedong Songo – Kota Ungaran : 25 KM
  • Candi Gedong Songo – Kota Ambarawa : 15 KM

TAMAN BUDAYA RADEN SALEH

WISATA TAMAN BUDAYA RADEN SALEH

Obyek Wisata Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang – Sebagai Ibukota Jawa Tengah, Semarang memiliki beragam objek wisata yang menarik untuk dikunjungi. Tidak hanya wisata wisata alam, budaya hingga wisata kuliner, di semarang akan ditemukan berbagai jenis wisata yang sayang untuk dilewatkan begitu saja.

Jika di Jakarta terkenal dengan Taman Ismail Marzuki, lalu di Jogja familiar dengan Taman Budaya Jogjakarta, Semarang juga memiliki taman buadaya yang tak kalah dengan taman budaya di kota lain. Taman budaya ini dijadikan sebagai pusat budaya dan kesenian di Semarang, yaitu Taman Budaya Raden Saleh atau biasa disingkat dengan nama TBRS Semarang.

Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) ini berada di pusat kota Semarang yaitu di Jalan Sriwijaya No 29 yang membuat TBRS mudah dijangkau serta tak pernah sepi pengunjung. Taman ini memiliki luas sekitar 90.000 m2 dimana dahulu taman budaya ini berupa sebuah kebun binatang yang kemudian di pindahkan ke tempat lain.

Tidak heran jika tmana ini masih berlantaikan tanah yang dihiasi dengan pepohonan rindang yang mengitari lokasi wisata. Beberapap pepohonan serta konturnya masih berupa tanah membuat taman budaya ini begitu sejuk.

Ada bergam objek wisata yang ada tempat ini, seperti pengunjung akan disajikan sebuah patung Raden Saleh yang sedang memegang keris. Lalu di sisi sebrang ada patung Ki Narto Sabdo dan di belakang patung terdapat gedung kesenian Ki Narto Sabdo yang biasanya menjadi tempat pementasan berbagai kesenian di Kota Semarang.

Di sebelah gedung Ki Narto Sabdo terdpaat deretan rapi gallery seni yang menjual berbagai pernak pernik kesenian dari para seniman Kota Semarang. Selain itu terdapat sebuah Gedung Serba Guna, Kantor Pengelolaan TBRS serta Kantor Dewan Kesenian Semarang atau biasa diseingkat dengan nama Dekase. Bagi pengunjung yang ingin menikmati pepohonan yang ada atau hanya berjalan jalan saja, di sekitar taman terdapat beberapa bagunann pendopo joglo yang digunakan sebagai tempat beristirahat para pengunjung.

Pada malam-malam tertentu, TBRS terdapat berbagai kegiatan pagelaran seni budaya yang rutin digelar. Pertunjukan seni budaya ini biasa digelar di Gedung Kesenian Ki Narto Sabdho. Pertunjukan tersebut diantaranya pertunjukan wayang orang oleh Ngesti Pandawa setiap Sabtu Malam, wayang kulit setiap Malam Senin Pahing, serta musik keroncong oleh Komunitas Keroncong setiap hari Rabu terakhir. Untuk harga tiket masuk pertunjukanna begitu terjangkau, dimulai dengan harga Rp 10.000 hingga Rp 25.000,- rupiah saja.

Jika pengunung merasa lapar maupun haus, tidak perlu keluar dari kompleks TBRS untuk mencari makanan maupun minuman. Karena di dalam kompleks TBRS terdapat berbagai macam menu makanan serta minuman yang di tawarkan di pujasera TBRS.

KOTA LAMA SEMARANG

WISATA KOTA LAMA SEMARANG

Tak kalah dari Kota Tua Jakarta, Semarang juga punya peninggalan sejarah yang bisa membuatmu merasa kembali ke masa lampau. Apa lagi kalau bukan wisata Kota Lama Semarang. Kawasan ini dulunya merupakan pusat perdagangan dan pemerintahan Kota Atlas di abad 19 – 20. Di dalamnya, terdapat sekitar 50 bangunan kuno yang mengusung gaya arsitektur Eropa tahun 1700-an.

Tak hanya bisa melihat-lihat dan mengagumi keindahannya, kamu juga bisa berburu foto di sini. Tak jarang ada anak-anak muda yang membuat foto pre wedding, album kelulusan, hingga sekedar selfie ria di sini. Selain itu, ada juga beberapa spot yang sudah mendapatkan sentuhan modern dan dikembangkan menjadi objek wisata yang lebih kekinian. Penasaran ada apa aja di dalamnya? Simak terus panduan wisata Kota Lama Semarang ini.

Pembangunan Kota Lama Semarang berawal dari ditandanganinya perjanjian antara Kerajaan Mataram dan VOC tanggal 15 Januari 1678 silam. Kala itu, Amangkurat II dari Mataram menyerahkan Semarang ke VOC sebagai tanda terima kasih karena sudah membantu menumpas pemberontakan Trunojoyo.

VOC pun kemudian membangun benteng Vifhoek sebagai pusat militer Belanda. Di sekelilingnya, mulai tumbuh daerah permukiman bernama de Europeeshe Buurt yang kemudian menjadi cikal bakal Kota Lama Semarang. Seiring dengan meningkatnya pemberontakan oleh penduduk pribumi, Vifhoek dibongkar dan diganti dengan benteng yang lebih besar. Dinding benteng ini mencapai Jl. Merak – Jl. Mpu Tantular – Jl. Kepodang – Jl. Cendrawasih.

Keberadaan benteng ini seakan membatasi de Europeeshe Buurt dengan daerah sekitarnya. Karena terkesan seperti sebuah kota yang berdiri sendiri, julukan Little Netherland pun muncul. Tahun 1824, benteng ini dirobohkan. Semakin lama, de Europeeshe Buurt semakin berkembang pesat. Berbagai kantor perdagangan mulai dibangun dan membuatnya menjadi pusat perdagangan dan pemerintahan Kota Atlas saat itu.

Baru setelah Indonesia merdeka, pemerintah mulai mengambil alih perkantoran dan bangunan milik Belanda. Beberapa bangunan ini masih beroperasi dan difungsikan hingga sekarang. Di antaranya ada Gereja Blenduk, Stasiun Tawang, Pabrik Rokok Praoe Layar, dll. Ada banyak destinasi menarik yang bisa kamu jumpai di kawasan wisata Kota Lama Semarang. Beberapa ada yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Namun ada juga yang sudah mendapat sentuhan modern.

1. Gereja Blenduk
2. Taman Srigunting
3. Pasar Klitikan
4. Semarang Contemporary Art Gallery
5. Old City 3D Art Museum Semarang

LAWANG SEWU

WISATA LAWANG SEWU

Bila anda berkunjung ke Kota Semarang, pastikan tidak melewatkan bangunan bersejarah yang satu ini, Lawang Sewu. Bangunan peninggalan Belanda yang tampak megah di pusat Kota Semarang di dekat Tugu Muda Semarang ini sangat ikonik dan terkenal di Semarang. Bangunan indah dan megah dengan dua menara kubah yang menjulang ini bisa membangkitkan jiwa petualangan anda yang ingin merasakan sesuatu yang baru, sesuatu yang menantang nyali anda.

Lawang Satu menjadi salah satu wisata sejarah yang terkenal di Semarang. Disebut Lawang Sewu karena konon pintu pintu di dalam gedung berjumlah seribu. Memang tidak main main banyaknya pintu di Lawang Sewu. Namun, bila anda ingin menghitungnya dengan tepat, maka hanya terdapat 600 daun pintu di sana. Namun, jendela jendela yang besar khas jendela bangunan Belanda yang besar bisa anda tambahkan untuk menggenapi jumlah kekurangan daun pintu tadi. Ya, secara harafiah, Lawang Sewu berarti seribu pintu, walau tidak tepat berjumlah seribu akan tetapi untuk menggambarkan betapa banyaknya pintu yang ada di dalam bangunan Lawang Sewu.

Lawang Sewu dibangun pada tahun 1904. Dan tiga tahun setelahnya, yaitu tahun 1907, bangunan ini selesai dibangun oleh pemerintah Kolonial Belanda pada masa itu. Lawang Sewu ini sebenarnya diperuntukkan kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij atau NIS, sebuah jawatan perkereta apian swasta milik Belanda pada masa itu.

Image Lawang Sewu berakhir saat Jepang menguasai Semarang tahun 1940an. Gedung megah ini diubah fungsinya menjadi tempat peristirahatan tentara Jepang. Sedangkan di ruangan bawah tanah digunakan untuk ladang pembantaian penduduk pribumi, pemuda Indonesia dan tentara Belanda. Kekejaman tentara Jepang memang sangat tersohor dalam sejarah. Lawang Sewu adalah saksi bisu bagaimana kekejaman tentera Jepang menyiksa dan membantai pemuda pemuda yang melawan mereka.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Lawang Sewu sempat dijadikan kantor beberapa institusi pemerintah, diantaranya adalah Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang lebih dikenal sebagai PT KAI, Kantor Prasarana Komando Daerah Militer (Kodam IV/Diponegoro) dan Kantor Kementrian Perhubungan Jawa Tengah.

Memang sampai saat ini Bangunan Lawang Sewu sangat terkenal keangkerannya. Bahkan di sini sempat dijadikan tempat uji nyali dalam acara televisi yang diadakan oleh stasiun televisi swasta di Indonesia. Tapi walau begitu, sebagai Ikon kota Semarang, pemerintah Kota Semarang ingin menghilangkan kesan mistik gedung antik ini. Karenanya banyak event besar yang diselenggarakan di Lawang Sewu, mulai dari Fashion Show, penyuluhan, dan banyak lagi kegiatan lain demi memperlihatkan bahwa Lawang Sewu sebagai bangunan bersejarah dengan arsitektur mengagumkan daripada gedung dengan misteri yang sangat kental.

Namun image Lawang Sewu sebagai gedung paling berhantu di Jawa Tengah tidak dapat pudar begitu saja. Banyak cerita seram yang membungkus keindahan arsitektur Lawang Sewu. Cerita tentang noni Belanda yang selalu terlihat sebelum Maghrib tiba di salah satu bagian bangunan, mengenakan gaun berwarna merah. Atau cerita tentang suara suara jeritan dan tangisan yang terdengar pada malam hari dari gedung tua itu. Suara noni noni Belanda dan tentara Belanda yang dibantai dalam gedung yang terdengar dari kejauhan.

Satu lagi misteri Lawang Sewu ada di ruang bawah tanah, tempat para pemuda Indonesia dibantai. Dikurung dalam penjara jongkok yang berukuran 1 x 1 meter itu banyak pemuda dan pribumi yang meregang nyawa karena mati rasa atau kedinginan setelah direndam berhari hari di dalam bak berisi air tersebut. Atau penjara berdiri yang menjadi saksi banyak nyawa hilang karena dipenggal setelah dipenjara berdiri dan berdesakan dalam ruangan 90 x 1 meter. Padahal pada jaman Belanda, ruangan bawah tanah dahulu difungsikan sebagai saluran air, karenanya banyak air di tempat ini bahkan sampai sekarang pun ruangan bawah tanah Lawang Seru masih tergenang air sehingga harus dipompa.

Bila anda ingin mengunjungi ikon Kota Semarang ini, disarankan untuk menyewa jasa Guide di sana. Anda tentunya tidak mau mengalami gangguan saat menyelami keindahan sekaligus keangkeran Lawang Sewu. Lawang Sewu saat ini sudah dipugar dan menjadi indah kembali. Hanya beberapa ruangan yang dilarang untuk didatangi, karenanya akan lebih baik untuk menyewa jasa guide saja untuk menghindari hal hal yang tidak dinginkan.

KERATON KANOMAN

WISATA KERATON KANOMAN

Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat adalah salah satu tempat wisata yang berada di desa kanoman, kabupaten cirebon, provinsi jawa barat, negara indonesia. Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat adalah tempat wisata yang ramai dengan wisatawan pada hari biasa maupun hari liburan. Tempat ini sangat indah dan bisa memberikan sensasi yang berbeda dengan aktivitas kita sehari hari.

Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat memiliki pesona keindahan yang sangat menarik untuk dikunjungi. Sangat di sayangkan jika anda berada di kota cirebon tidak mengunjungi wisata sejarah yang mempunyai keindahan yang tiada duanya tersebut.

Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat sangat cocok untuk mengisi kegiatan liburan anda, apalagi saat liburan panjang seperti libur nasional, ataupun hari ibur lainnya. Keindahan Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat ini sangatlah baik bagi anda semua yang berada di dekat atau di kejauhan untuk merapat mengunjungi tempat Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat di kota cirebon.

Dimana lokasi Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat ? seperti yang tertulis di atas lokasi Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat terletak di desa kanoman, Kecamatan lemahwungkuk , Kabupaten cirebon, Provinsi jawa barat.

Tetapi jika anda masih bingung di mana lokasi atau letak Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat saya sarankan anda mencari dengan mengetik Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat di search google maps saja.

Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat merupakan tempat wisata yang harus anda kunjungi karena pesona keindahannya tidak ada duanya. Penduduk lokal daerah kanoman juga sangat ramah tamah terhadap wisatawan lokal maupun wisatawan asing.

Kota cirebon juga terkenal akan keindahan obyek wisatanya , salah satu contohnya adalah Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat ini. Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat merupakan salah satu keraton yang masih hadir hingga kini sebagai saksi sekaligus pengawal tradisi peradaban Kesultanan Cirebon, bahkan di dalam area Keraton Kanoman inilah bangunan tempat tinggal pertama yang didirikan ketika membentuk Dukuh Caruban.

Obyek Wisata Keraton Kanoman di Lemahwungkuk Cirebon Jawa Barat berada di Jl. Winaon, Kampung Kanoman, Kelurahan Lemah Wungkuk, Kecamatan Lemah Wungkuk. Keraton ini berada pada pedataran pantai. Di sebelah utara keraton terdapat pasar tradisional, sedangkan di sebelah selatan dan timur merupakan pemukiman penduduk. Di sebelah barat keraton terdapat sekolah Taman Siswa.

Keraton Kanoman didirikan oleh Pangeran Mohamad Badridin atau Pangeran Kertawijaya, yang bergelar Sultan Anom I, pada sekitar tahun 1510 Šaka atau 1588 M. Salah satu bangunan penting yang terdapat dalam komplek Keraton Kanoman adalah Witana. Witana berasal dari kata “awit ana” yang berarti bangunan tempat tinggal pertama yang didirikan ketika membentuk Dukuh Caruban. Dalam kakawin Nagarakertagama bangunan witana adalah berupa panggung kayu sementara dengan atap tanpa dinding tempat persemayaman raja sementara waktu.

KERATON KESEPUHAN

WISATA KERATON KESEPUHAN

Keraton Kasepuhan merupakam keraton dengan arsitektur unik dan meraton ini memiliki perawatan yang baik terawat. Di setiap bagian arsitektur keraton terkenal dengan sejarahnya. Di Halaman depan keraton ini disekelilinginya terdpat tembok bata merah dan terdapat pula pendopo didalamnya. Keraton kasepuhan cirebon berlokasi di ujung selatan jalan lemah wungkuk, cirebon, jawa barat.

Keraton Kasepuhan cirebon adalah salah satu istana kerajaan islam yang terdapat di jawa barat, di sana merupakan tempat para pendiri cirebon bertahta, disini merupakan pusat pemerintahan Kasultanan Cirebon.

Keraton ini mempunyai museum yang lengkap dan terdapat lukisan koleksi kerajaan dan benda pusaka . Salah satu koleksi yang paling di kenal yaitu kereta Singa Barong yang pernah di gunakan sebagai kereta kencana Sunan Gunung Jati.

Kereta singa barong pada saat ini tidak dipergunakan lagi dan hanya di keluarkan pada pada tanggal 1 Syawal untuk dimandikan. Di bagian dalam ruangan keraton kasepuhan ini terdiri dari beberapa bangunan utama dengan warna putih. Didalamnya ada ruang tamu, singgasana raja dan ruang tidur .

Keraton kasepuhan Cirebon didirikan pada tahun 1452 M oleh seorang pangeran cakrabuana, dan sekarang ia disemayamkan di dalem agung pakungwati, Cirebon. Keraton kasepuhan cirebon dulunya memiliki nama keraton pakungwati, Gelar Pakungwati berasal dari nama Ratu Dewi Pakungwati binti Pangeran Cakrabuana yang kemudian dipersunting oleh Sunan Gunung Jati.

Beliau meninggal pada tahun 1954 karena usia tua di Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Nama belilaulah yang kemudian di abadikan oleh Sunan Gunung Jati sebagai nama sebuah keraton, yakni Keraton Pakungwati yang kini biasa dikenal sebagai keraton Kasepuhan.

GEDUNG JOANG

WISATA GEDUNG JOANG

Masih ingatkah kamu dengan peristiwa penculikan Ir. Soekarno ke Rengasdengklok? Peristiwa tersebut adalah momen penting yang membuat Hari Kemerdekaan Indonesia jatuh pada 17 Agustus. Rencana penculikan yang digawangi para pemuda tersebut ternyata disusun di sini, di Gedung Joang ‘45, Jakarta.

Gedung yang dekat dengan Tugu Tani ini dulunya adalah markas pembinaan politik untuk para pemuda. Jadi, pada masa pendudukan Jepang, para pemuda mengambil alih gedung yang sebelumnya merupakan Hotel Schomper. Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, Adam Malik, Chaerul Saleh, dan sejumlah tokoh lainnya, terlibat dalam pembinaan politik di gedung yang dahulu bernama Gedung Menteng 31.

Sekarang, jika berkunjung ke Gedung Joang ‘45, kamu akan menemukan banyak peninggalan dan dokumentasi sejarah kemerdekaan. Ada patung para tokoh besar, diorama kejadian penting saat dan setelah kemerdekaan, barang-barang peninggalan, serta dokumentasi periode 1944-1949. Bahkan, kamu juga dapat melihat langsung mobil Presiden Soekarno dan mobil Wakil Presiden Hatta yang terparkir di halaman belakang museum ini.

Peristiwa penculikan Soekarno ke Rengasdengklok merupakan salah satu peristiwa paling penting dalam penentuan kemerdekaan Indonesia. Pasalnya, kalau tidak ada peristiwa ini, proklamasi kemerdekaan tidak akan dikumandangkan tanggal 17 Agustus 1945. Pemoeda Menteng 31 menculik Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok agar jauh dari pengaruh militer Jepang. Mereka lalu mendesak para Bapak Bangsa memproklamasikan kemerdekaan sesegera mungkin.

Kamu bisa ketemu dengan para Pemoeda Menteng 31 melalui foto-foto yang dipajang di museum ini. Foto-foto tersebut mendokumentasikan kejadian-kejadian bersejarah yang terjadi di hari-hari menjelang 17 Agustus 1945. Di dalam gedung juga ada Bioskop Joang ‘45, tempat menonton video dokumenter sejarah, termasuk peristiwa penculikan tersebut. Salinan videonya bahkan bisa dibeli, lho!

Museum yang diresmikan tahun 1974 ini punya koleksi benda peninggalan sejarah dari peristiwa-peristiwa penting yang biasanya hanya diulas di buku pelajaran sekolah. Kamu juga bisa melihat poster-poster propaganda Jepang, baju dan senjata yang digunakan para gerilyawan, serta tandu yang digunakan untuk membopong Jenderal Soedirman. Foto-foto hitam putih tentang perjuangan rakyat Indonesia yang ada di sini juga amat menggetarkan hati!

Karena museum ini luas, berkelilinglah sesuka hatimu. Jangan lewatkan halaman belakang yang rindang dan perpustakaan di sisi kanan gedung. Sempatkan juga untuk menonton video dokumenter kejadian-kejadian bersejarah seputar kemerdekaan negeri ini di Bioskop Joang 45. Selain itu, museum ini punya fasilitas lain, seperti Kantin Joang, toko suvenir, dan masjid yang adem. Oke banget, pokoknya!

Kamu bisa main ke Gedung Joang ‘45 dengan biaya yang sangat murah. Untuk dewasa dikenakan tarif Rp5 ribu, mahasiswa Rp3 ribu, sedangkan anak-anak Rp2 ribu. Museum ini berada di jalan Menteng Raya 31, Jakarta Pusat, tak jauh dari Tugu Tani. Museum beroperasi pukul 09.00 – 15.00, dari Selasa sampai Minggu.

JEMBATAN AMPERA

WISATA JEMBATAN AMPERA

Jembatan Ampera yang berada di tengah atau pusat kota dan menjadi penghubung daerah Seberang Ilir dan Seberang Ulu. Kedua daerah ini dipisahkan oleh sebuah sungai yang bernama Sungai Musi. Selain kuliner khas Palembang yang sangat populer, Jembatan Ampera sudah menjadi ikon dari Kota Palembang. Jembatan ini mulai dibangun pada bulan April tahun 1962 setelah mendapat persetujuan dari Presiden Soekarno dengan biaya diambil dari pampasan perang Jepang.

Jembatan Ampera Tempo DuluJembatan Ampera sendiri dulunya bernama Jembatan Bung Karno. Pemberian nama “Bung Karno” merupakan sebuah bentuk penghargaan kepada beliau yang memperjuangkan keinginan masyarakat Palembang untuk menyatukan Seberang Ulu dengan Seberang Ilir. Pada saat itu, Jembatan Ampera merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Penggantian nama Jembatan Bung Karno terjadi pada tahun 1966, saat terjadi pergolakan politik di Indonesia yang kemudian nama jembatan tersebut diganti menjadi Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat).

Pada awalnya bagian tengah badan Jembatan Ampera dapat dikontrol naik turun, mengingat pada masa itu, Sungai Musi merupakan jalur utama perdagangan yang mengandalkan transportasi laut. Namun, seiring dengan perkembangan di Kota Palembang pada tahun 1970 yang kian padat dianggap mengganggu arus lalu lintas transportasi darat. Oleh karena itu, naik turun jembatan tidak dioperasikan lagi. Karena waktu yang diperlukan untuk mengangkat jembatan tersebut relatif lama yaitu sekitar 30 menit.

Kota Palembang, Sumatera Selatan dikenal sebagai salah satu pusat perkembangan sejarah budaya di Indonesia. Jalan-jalan ke Kota Palembang pastilah terasa tidak lengkap jika tidak berkunjung ke Jembatan Ampera yang membentang di atas Sungai Musi yang indah.

Sungai Musi tidak bisa dipisahkan dari Jembatan Ampera dan Sumatera Selatan. Sungai Musi dan Jembatan Ampera menjadi salah satu kebanggaan Sumatera Selatan. Sungai Musi adalah sungai terpanjang di Pulau Sumatera, panjangnya mencapai 750 Km dengan lebar 500 Meter. Sungai yang membelah Provinsi Sumatera Selatan dari Timur ke Barat ini bercabang-cabang. Sungai Musi memiliki delapan anak sungai besar yaitu, Sungai Komering, Sungai Leko, Sungai Rawas, Sungai Lakitan, Sungai Kelingi, Sungai Lematang, Sungai Semangus dan Sungai Ogan.

Apabila Anda ingin melihat keindahan dari Jembatan Ampera ini adalah di waktu malam hari karena di waktu itulah jembatan ini selalu dihiasi dengan lampu-lampu yang warna-warni dan sangat terang serta memancar ke segala arah. Arah sinar dari lampu yang memancar itu tidak hanya menyamping, tetapi menjulang ke atas langit. Keindahan ini tampak lebih sempurna karena teknik pencahayaan yang digunakan ditata secara khusus, sehingga kemegahan jembatan ini semakin terlihat sempurna.

Di atas Sungai Musi, pengunjung bisa melihat secara langsung rumah apung atau yang lebih terkenal dengan sebutan rumah sakit yang menjadi rumah khasnya Palembang. Lebih seru lagi, jika Anda datang pada saat diadakannya festival air di Sungai Musi. Biasanya acara yang digelar adalah perlombaan perahu, kontes menghias perahu, dan perlombaan menyeberang sungai.

SUNGAI MUSI

WISATA SUNGAI MUSI

Sungai Musi mempunyai panjang 750 km dan merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera. Sejak masa Kerajaan Sriwijaya, sungai Musi ini terkenal sebagai sarana transportasi utama masyarakat. Di tepi Sungai Musi terdapat Pelabuhan Boom Baru dan Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.

Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi 2 bagian. Seberang Ilir di bagian Utara dan seberang Ulu di bagian Selatan. Mata airnya bersumber dari Kepahiang, Bengkulu. Sungai ini merupakan muara sembilan anak sungai besar, yaitu Sungai Komering, Rawas, Batanghari, Leko, Lakitan, Kelingi, Lematang, Semangus, dan Sungai Ogan. Sungai Musi penting bagi masyarakat Palembang karena sebagai salah satu alternatif sarana transportasi. Hal ini dilihat dari banyaknya perahu motor yang mondar-mandir membawa penumpang yang ingin menyeberang.

Biasanya pengunjung berdatangan pada sore hari hingga malam hari untuk menyaksikan matahari terbenam dan suasan malam yang diterangi lampu-lampu di sekitar sungai. Pada malam minggu atau malam liburan lainnya, biasanya jumlah pengunjung yang mengunjungi Jembatan Ampera dan sekitarnya akan lebih banyak.

Sungai Musi menjadi tempat rekreasi untuk tua muda dan anak-anak, termasuk wisatawan dari luar kota Palembang. Dikawasan ini, Anda dapat menyaksikan rumah sakit, yaitu rumah tradisional khas Palembang. Pada hari-hari perayaan tertentu, misalnya Hari Peringatan Kemerdekaan Indonesia, diadakan festival air, seperti perlombaan perahu bidar, kontes menghias perahu, perlombaan berenang menyeberangi sungai, dan lain-lain.

Di sekitar sungai musi, terdapat banyak penginapan dengan tarif yang berfariasi antara Rp 250 ribu hingga Rp 500 ribu. Sedangkan untuk keperluan makan, Anda tidak perlu bingung karena ditempat ini terdapat banyak rumah makan, baik yang ada di pinggir sungai atau di rumah terapung. Rumah-rumah makan tersebut menawarkan menu andalan, seperti pindang ikan patin yang merupakan makanan khas Pelembang.

Selain itu, di sekitar Wisata Sungai Musi juga terdapat penjual kerupuk, pempek Palembang, dan kerajinan-kerajinan tangan, seperti songket dan kain jumputan. Di kawasan Jembatan Ampera, Anda dapat menyewa perahu motor dengan antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu rupiah, tergantung kelihaian Anda dalam menawar.

3 ISTANA KERAJAAN DI SUMATERA

WISATA 3 ISTANA KERAJAAN DI SUMATERA

Nusantara. Siapa yang tak kenal kata ini? Sebutan untuk Indonesia saat masih didominasi kerajaan-kerajaan. Saat itu ada banyak kerajaan di Bumi Nusantara. Salah satunya kerajaan-kerajaan di Pulau Sumatera. Siapa sangka raja-raja ini memerintah di balik istananya yang megah dan berdiri kokoh.

Istana Maimoon, Medan
Istana yang berdiri megah dengan warna kuning emas yang dominan ini berada di pusat Kota Medan. Dulunya merupakan salah satu dari segi empat emas Kesultanan Deli bersama masjid Raya dan Taman Sri Deli yang masih ada hingga kini.

Berkunjung ke istana megah ini, Anda akan terpukau dengan arsitekturnya yang didominasi nuansa campuran. Istana megah ini didesain oleh arsitek Italia dan dibangun pada tahun 1888 atas prakarsa Sultan Deli, Makmun Al Rasyid Perkasa Alamsyah. Namun ada versi lain yang menyebutkan bahwa arsitek istana ini adalah seorang Kapitan Belanda yang bernama T.H. van Erp.

Istana Maimun memiliki luas sebesar 2.772 m2 dan 30 ruangan serta memiliki desain interior yang unik, yang memadukan unsur-unsur warisan kebudayaan Melayu, dengan gaya Islam, Spanyol, India dan Belanda. Tak lengkap rasanya kalau ke Medan tak sempat menginjakkan kaki ke istana megah ini. Hingga kini istana ini masih terjaga dari segi eksterior maupun interiornya.

Istana Lima Laras, Batubara
Masih dari provinsi Sumatera Utara. Istana para raja di tanah Sumatera ini selanjutnya adalah istana Kerajaan Lima Laras yang disebut Istana Lima Laras.

Istana ini terletak di Desa Laras, Kecamatan Tanjung Tiram, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Istana ini dibangun oleh Datuk Muhammad Yuda, Raja ke-11 dari Kerajaan Lima Laras pada tahun 1907 dan selesai 1912. Artinya usia istana ini telah lebih dari 1 abad, klikers!

Pembangunan istana dengan empat anjungan dan menghadap ke selatan ini mengadopsi arsitektur campuran Eropa, Cina, Melayu. Tepat di depan Istana Lima Laras terdapat dua buah meriam. Namun uniknya, meriam ini bukan digunakan untuk menembak musuh, melainkan untuk mengumpulkan rakyat apabila ada pengumuman dari raja.

Istano Basa, Tanah Datar
Siapa tak kenal istana mewah ini. Sebuah istana bertuah di tanah bertuah. Selamat datang di Istano Basa Pagaruyung! Ini adalah sebuah istana yang terletak di kecamatan Tanjung Emas, kota Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.

Istana ini adalah tempat tinggal keluarga Kerajaan Minangkabau yang sekaligus menjadi Pusat Kerajaan Minangkabau pada masanya. Kerajaan Minangkabau yang dipimpin oleh seorang raja yang dikenal “Rajo Alam“ atau “Raja Diraja Kerajaan Minangkabau. Istano Basa berarti Istana yang besar atau agung. Istana raja alam ini terus menggali beberapa modifikasi dimana istana yang pertama berada di Puncak Bukit Batu Patah (Bukit yang berada di belakang bangunan istana sekarang) kemudian pindah ke Ranah Tanjung Bungo Pagaruyung dan terakhir di Gudam.